Jumat, 30 Desember 2011

contoh soal interaksi PBSI


1.      Apa yang di maksud dengan mengajar ?
Jawab  :
Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang dirumuskan.
2.      Sebutkan beberapa prinsip umum tentang mengajar !
Jawab  :
1)      Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa
2)      Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis
3)      Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa
4)      Kesiapan dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar
5)      Tujuan pengajaran harus diketahui siswa
6)      Mengajar harus mengikuti rpinsip psikologis tentang belajar.
3.      Sebutkan beberapa faktor kesengajaan dalam interaksi belajar !
Jawab  :
1)      Kesiapan (readiness); yaitu kapasiti baik fisik maupun mental untuk melakukan sesuatu
2)      Motivasi; yaitu dorongan dari dalam diri sendiri untuk melakukan sesuatu
3)      Tujuan yang ingin dicapai.
4.      Dalam proses belajar mengajar perlu pengelolaan kelas. Apa yang di maksud keterampilan pengelolaan kelas ?
Jawab  :
keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, dan keterampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal, apabila terdapat gangguan dalam proses belajar baik yang bersifat gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan.
5.      Keterampilan mengelola kelas mempunyai beberapa tujuan yaitu Tujuan untuk siswa dan Tujuan untuk guru. Jelaskan salah satu tujuan tersebut !
Jawab  :
Tujuan untuk siswa Keterampilan mengelola kelas bagi siswa mempunyai tujuan untuk: Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya, serta sadar untuk mengendalikan dirinya. Membantu siswa agar mengerti akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan melihat atau merasakan teguran guru sebagai suatu peringatan dan bukan kemarahan. Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas-aktivitas kelas.
6.      Sebutkan dan jelaskan salah satu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal !
Jawab  :
1)      Menunjukan sikap tanggap
Guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapan atas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik.
2)      Membagi perhatian,
3)      Memusatkan perhatian kelompok
4)      Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas,
5)      Menegur,
7.      Sebutkan beberapa kekeliruan yang perlu dihindari guru dalam mempraktekkan keterampilan mengelola kelas adalah ?
Jawab  :
1)      Campur tangan yang berlebihan,
2)      Kesenyapan,
3)      Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan
4)      Penyimpangan
5)      Bertele-tele,
6)      Pengulangan penjelasan yang tidak perlu
8.      Jelaskan Fungsi Instruksional dalam manajemen kelas !
Jawab  :
Sepanjang sejarah keguruan, tugas atau fungsi guru yang sudah tradisional adalah mengajar (to teach), yaitu ; 1) menyampaikan sejumlah keterangan-keterangan dan fakta-fakta kepada murid, 2) memberikan tugas-tugas kepada mereka, dan 3) mengoreksi atau memeriksanya. Fungsi intruksional inilah yang masih selalu diutamakan oleh hampir semua orang yang disebut guru, dan fungsi instruksional ini masih dominan dalam karier besar guru.
9.      Jelaskan Fungsi Edukasional dalam manajemen kelas !
Jawab  :
Fungsi guru sesungguhnya bukan hanyalah mengajar, akan tetapi juga harus mendidik (to educate). Fungsi educational ini harus merupakan fungsi sentral guru. Dalam fungsi ini setiap guru harus berusaha mendidik murid-muridnya menjadi manusia dewasa.
10.  Jelaskan Modifikasi tingkah laku dalam pengendalian kondisi belajar yang optimal !
Jawab  :
Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pemebelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang peniruan perilaku yang kurang baik.
11.  Apa yang dimaksud dengan Pengelolaan kelompok Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas ?
Jawab  :
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagaian dari pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang terapkan oleh guru. Kelompok juga bias muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan, teman karena gender dan lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaiant ujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas itu harus di kelola dengan baik oleh guru. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
12.  Apakah pengertian dari belajar ?
Jawab  :
Belajar adalah sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Perubahan perilaku dalam proses belajar adalah akibat dari interaksi dengan lingkungan. Interaksi ini biasanya berlangsung secara sengaja.


13.  Sebutkan fungsi pembelajaran Fungsi Sumber Pembelajaran Bahasa Indonesia !
Jawab  :
1)      Bahasa guru dapat mempengaruhi bhs siswa
2)      Sesuai dengan fungsinya guru sbg informator, mk bukan hanya guru Bhs Ind saja yg seharusnya menggunakan bhs Indonesia yg baik dan benar.
3)      Menggunakan bhs yg baik berarti guru dlm mengajarnya memperhatikan aturan berbahasa.
4)      Menggunakan bhs yg benar berarti guru dlm mengajar jg hrs memperhatikan aturan bahasa berupa kaidah2 bahasa.
14.  Jelaskan Pebedaan Sumber Belajar Dan Media Pembelajaran ?
Jawab  :
1)      Media pembelajaran segala sesuatu yg dipakai sbg alat atau perantara untuk menyampaikan materi pemebelajaran
2)      Sumbear pembelajaran dpt diartikan sbg segala sesuatu yg mrpk asal / sumber materi untuk pembelajaran
15.  Sebutkan 5 fungsi sumber pembelajaran !
Jawab  :
1)      Meningkatkan produktivitas pendidikan dg jalan mempercepat laju belajar.
2)      Membantu guru untuk menggunakan waktunya scr lbh baik
3)      Mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi shg lbh banyak membina dan mengembangkan gairah belajar siswa.
4)      Memberikan pelayanan pendidikan yg sifatnya lbh individual
5)      Mengurangi kontrol guru yg kaku dan tradisional
16.  Coba sebutkan tujuan guru mengajukan pertanyaan kepada siswa ?
Jawab  :
1)      mengembangkan pendekatan CBSA
2)      menimbulkan rasa keingintahuan
3)       merangsang fungsi berpikir
4)       mengembangkan keterampilan berpikir
5)      memfokuskan perhatian siswa
6)       menstruktur tugas yang akan diberikan
7)       mendiagnosis kesulitan belajar siswa
8)       menkomunikasikan harapan yang diinginkan oleh guru dari siswanya
9)       merangsang terjadinya diskusi dan memperlihatkan perhatian terhadap gagasan dan terapan siswa sebagai subjek didik.
17.  Mengapa guru perlu menguasai Keterampilan bertanya  baik itu guru pemula maupun yang sudah professional ?
Jawab  :
karena dengan mengajukan pertanyaan baik guru maupun siswa akan mendapatkan umpan balik dari materi serta juga dapat menggugah perhatian siswa atau peserta didik.
18.  Pada hakikatnya fungsi bertanya adalah ?
Jawab  :
Pada hakikatnya melalui bertanya kita akan mengetahui dan mendapatkan informasi tentang apa saja yang ingin kita ketahui. Dikaitkan dengan proses pembelajaran maka kegiatan bertanya jawab antara guru dan siswa, atara siswa ini menunjukan adanya ineraksi dikelas yang di dinamis dan multi arah.
19.  Dalam bertanya memiliki teknik tertentu. Apa yang di maksud dengan teknik bertanya ?
Jawab  :
Yang dimaksud dengan teknik bertanya adalah sejumlah cara yang dapat digunakan oleh kita sebagai guru untuk mengajukan pertanyaan kepada peserta didiknya dengan memperhatikan karakteristik dan latar belakang peserta didik.
20.  Sebutkan beberapa kriteria pertanyaan yang baik !
Jawab  :
Jelas, informasi yang lengkap, terfokus pada satu masalah, berikan waktu yang cukup, sebarkan terlebih dahulu pertanyaan kepada seluruh siswa, berikan respon yang menyenangkan sesegera mungkin dan yang terakhir tuntunlah jawaban siswa sampai ia menemukan jawaban sendiri.
21.  Ada 4 jenis pertanyaan yang dapat kita gunakan dalam melaksanakan tugas pembelajaran. Sebutkan 4 jenis tersebut !
Jawab  :
(1)   pertanyaan permintaan
(2)    pertanyaan mengarahkan atau menuntun dan
(3)   pertanyaan yang bersifat menggali serta
(4)   pertanyaan retoris.
22.  Sebutkan pertanyaan inventori yang terdiri dari 3 jenis !
Jawab  :
1)      pertanyaan yang mengungkap perasaan dan pikiran
2)      pertanyaan yang menggiring siswa untuk mengidentifikasi pola-pola perasaan pikiran dan perbuatan dan
3)      pertanyaan yang menggiring peserta didik untuk mengidentifikasi akibat-akibat dari perasaan, pikiran dan perbuatan.
23.  Menurut Adey, Hewitt, Hewitt, dan Landau (2004) perubahan di sekolah dan pembelajaran perlu memperhatikan beberapa hal. Coba sebutkan beberapa hal tersebut !           
Jawab  :
1)      proses penyusunan kurikulum harus benar-benar melibatkan guru sehingga guru bukan sekedar pengguna yang ditunjuki “bagaimana cara menggunakannya”.
2)       perubahan tidaklah dapat dipaksakan. Guru hendaknya diperlakukan sebagai partner dalam program yang dilakukan.
3)       coaching dalam kelas merupakan sesuatu yang esensial. Coaching berperan penting sebagai pembawa perubahan pedagogi praktis dalam kelas.
4)       Keempat, perubahan berlangsung secala pelan, tidak menentu, kadang berbalik lagi, namun kadang juga bergerak maju.
24.  Apa yang di maksud dengan Lesson study ?
Jawab  :
Lesson study  adalah pelaksanaan “Piloting” yang dimaksudkan untuk mengembangkan dan mengujicobakan model-model pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar MIPA di SMA dan SMP di Indonesia. Kegiatan Piloting sesungguhnya merupakan langkah “persiapan” untuk melaksanakan program berikutnya yang disebut Lesson Study.
25.  Sebutkan dan jelaskan beberapa factor yang di ungkapkan Stigler dan Hiebert (1999) yang membuat lesson Study bisa meningkatkan kualitas pendidikan di Jepang !
Jawab  :
1)      Lesson study didasarkan pada model peningkatan pembelajaran yang sifatnya terusmenerus.
Sekalipun peningkatan yang dicapai melalui satu kegiatan Lesson Study hanya kecil saja, namun karena kegiatan dilaksanakan terus menerus maka peningkatan itu
menjadi besar.
2)      Lesson Study selalu memfokuskan pada bagaimana membuat siswa belajar. Tujuan pendidikan adalah untuk membuat siswa belajar, oleh karena itu segala program
pendidikan hendaknya diarahkan untuk membantu agar siswa meningkat dan berhasil dalam belajar.
3)      Lesson Study memfokuskan pada peningkatan yang bisa langsung dimanfaatkan dalam konteks yang ada. Setiap kegiatan pembelajaran merupakan satu unit yang harus
dianalisis dan ditingkatkan sehingga perbaikan yang dimaksud bisa langsung diterapkan
4)       Lesson Study merupakan sebuah kolaborasi. Dengan melakukan kolaborasi para guru bisa saling langsung bertukar pikiran dan saling memberi masukan untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Kegiatan Lesson Study sesungguhnya merupakan tempat bagi para guru untuk belajar.
5)      Guru yang terlibat dalam Lesson study merasa bahwa mereka memberikan kontribusi terhadap ilmu mengajar dan juga terhadap perkembangan profesionalisme dirinya. Oleh karena itu Lesson Study bukan hanya mengembangkan profesionalisme guru namun juga mengembangkan ilmu tentang mengajar.
26.  Coba jelaskan prinsip utama lesson study !
Jawab  :
Prinsip utama Lesson Study adalah peningkatan kualitas pembelajaran pembelajaran secara bertahap dengan cara belajar dari pengalaman sendiri dan orang lain dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
27.  Coba anda jelaskan lesson study dengan pola plan-do-see !
Jawab  :
Pada fase plan, guru menyusun rencana pembelajaran. Penyusunan rencana pembelajaran biasanya dilakukan bersama-sama oleh para guru dan sering juga melibatkan dosen. Pada fase Do, guru yang ditunjuk menjadi guru model melaksanakan kegiatan pembelajaran. Fase do biasanya menjadi open lesson yang
disaksikan oleh guru lain, dosen, dan observer dari pihak-pihak lain. Setelah open lesson dilakukan fase see yang berisi refleksi pelaksanaan pembelajarn dalam open lesson.
Pola dasar Lesson Study sesungguhnya pola yang logis dan tepat.
28.  Berapa banyak masalah yang serius akibat pola Plan-do-see dan jelaskan !
Jawab  :
1)      Karena Lesson Study menonjolkan fase do (open lesson), banyak orang berpikir bahwa Lesson Study adalah open lesson. Banyak orang mengidentikkan lesson study dengan open lesson. Karenanya apabila telah selesai mengamati open lesson beberapa orang berpendapat lesson study sudah selesai. Padahal Lesson Study yang sesungguhnya baru dimulai bagi para observer, yaitu seberapa banyak mereka belajar dari mengamati pembelajaran yang dilakukan oleh guru lain.
2)      Karena banyak observer yang belum terbiasa untuk belajar dari orang lain, seringkali observer kurang fokus dalam melakukan pengamatan. Pengamatan yang dilakukan oleh observer biasanya masih bersifat superficial (permukaan) dan belum menyentuh esensi pembelajaran. Lesson study sesungguhnya adalah kajian pembelajaran dan bukan sekedar melihat pembelajaran.
3)      Fase refleksi yang seharusnya menjadi sesi refleksi untuk semua pihak yang terlibat seringkali hanya menjadi ritual pelengkap lesson study. Karena ada “konsensus” untuk tidak mengkritik guru, observer seringkali hanya menyampaikan “pujian” terhadap guru model yang tampil dan kurang memberikan inspirasi untuk belajar, baik bagi dirinya maupun orang lain.
29.  Jelaskan 3 pola dalam interaksi  edukatif !
Jawab  :
1)      Ada 3 bentuk utama pola interaksi yaitu terjadi dalam proses pembelajaran yaitu (1) klasikal, (2) kelompok dan (3) individu.
2)       Pola interaksi yang diterapkan oleh guru di kelas sangat menentukan/dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu keaktifan siswa menurut Ausebel ditentukan oleh kebermaknaan isi/materi serta proses pembelajaran dan modus kegiatan pembelajaran tersebut.
3)      Ada 3 kiat bagi guru untuk menimbulkan interaksi edukatif dalam proses pembelajaran yaitu (1) mengadakan kontak pandang mata (2) melakukan gerakan badan dan mimik dan (3) pergantian posisi dan gerak
30.  Jelaskan bagaimana penerapan kedisiplinan yang baik dalam kelas !
Jawab  :
Setiap guru harus menguasai benar masalah disiplin ini mulai dari bentuknya, taraf perkembangannya, komponen utamanya, jenis-jenis masalah displin di kelas serta pembinaan disipilin terhadap siswanya di kelas.
31.  Sebutkan 3 kiat bagi guru untuk menimbulkan interaksi edukatif dalam proses pembelajaran !
Jawab  :
1)      mengadakan kontak pandang mata
2)      melakukan gerakan badan dan mimik dan
3)      pergantian posisi dan gerak
32.  Ada berapa Sumber Pemberlajaran Berdasarkan  Segi Pengembangannya dan jelaskan!
Jawab  :
1.      Learning sources by design : sumber pembelajaran  yg dirancang/disengaja dipergunakan untuk kepeerluan pengajaran yg telah diseleksi.
2.      Learning sources by utilitarian: sumber pembelajaran yg ada di sekeliling sekolah  yg dimanfaatkan  untuk memudahkan siswa yg sedang belajar / sifatnya insidentil
33.  Sebutkan dan jelaskan Jenis Sumber Pembelajaran Menurut Association of Education Communication Technologi (AECT) !
Jawab  :
1)      Pesan/ Message : iinformasi yg diteruskan oleh  komponen lain dalam bentuk gagsan, fakta, arti dan data.termasuk disini bahan pelajaran  yg dituangkan dalam buku/wacana
2)      People/ orang nara sumber: manusia yg bertindak sbg penyimpan, penglah dan penyaji pesan.
3)      Materials/bahan : Perangkat lunak yg mengandung pesan  untuk disajikan  melalui penggunaan alat/perangkat keras  ataupun dirinya sendiri (tranparansi, slide, film, audio, vidio, modul, majalah, buku dsb
4)      Device/ alat; sesuatu perangkat keras  yg digunakan untuk menyempaikan  pesan yg tersimpan dalam bahan (OHP, tape recorder, pesawat radio,  dsb
5)      Technique/ teknik: prosedure/ acuanyg dipersiapkan untuk penggunaan bahanm peralatan, orang, lingkungan untuk menyampaikan pesan.
6)      Setting / lingkungan : situasi/suasana sekitar dimana pesan disampaikan.
-ling. Fisik (ruang kelas, gedung sek. Perpus, lab, tman, lap)
– non fisik (iklim belajar, tenang, ramai, lelah, dsb)
34.  Dalam Memilih Menggunakan Sumber Pembelajaran, ada beberapa acuan yang perlu diperhatikan. Coba sebutkan !
Jawab  :
1)      Penggunaan itu dlm rangka memotivasi belajar Bahasa Indonesia.
2)      Pengunaan itu dlm rangka mendukung pencapaian kompetensi siswa.
3)      Penggunaan itu dalam rangka mendukung program pengajaran yg melibatkan  aktivitas penelitian Bahasa Indonesia
4)      Penggunaan itu dpt membantu memecahkan masalah
35.  Sebutkan 5 Prinsip-prinsip Pengadaan Sumber Pembelajaran !
Jawab  :
1)      Ekonomis/ menyangkut dana pembiayaan
2)      Adanya teknisi yg dapat mengoperasikan  alat tertentu yg dijadikan sumber pembelajaran.
3)      Praktis dan sederhana, mudah mengoperasikan dan terjangkau
4)      Fleksibel, mudah dikembangkan, tidak kaku
5)      Relevan dengan materi dan kompetensi yg hendak dicapai siswa
36.  Apa yang dimaksud dengan Kesulitan Belajar atau “Learning Disabilities ?
Jawab  :
Learning Disabilities  adalah hambatan/gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai.
37.  Apakah penyebab kesulitan belajar pada anak?
Jawa    :
Hal itu  disebabkan oleh gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (gangguan neurobiologis) yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan seperti gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung.
38.  Sebutkan tanda-tanda Kesulitan Belajar pada usia Pra-Sekolah !
Jawab  :
1)       Keterlambatan berbicara jika dibandingkan dengan anak seusianya
2)       Adanya kesulitan dalam pengucapan kata
3)       Kemampuan penguasaan jumlah kata yang minim
4)       Seringkali tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk suatu kalimat
5)       Kesulitan untuk mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari
39.  Mengapa Guru perlu menguasai keterampilan bertanya ?
Jawab  :
1)      guru cenderung mendominasi kelas dengan ceramah,
2)      siswa belum terbiasa mengajukan pertanyaan,
3)      siswa harus dilibatkan secara mental-intelektual secara maksimal, dan
4)      adanya anggapan bahwa pertanyaan hanya berfungsi untuk menguji pemahaman siswa.
40.  Pertanyaan yang baik mempunyai berbagai fungsi antara lain adalah ?
Jawab  :
1)      mendorong siswa untuk berpikir,  
2)      meningkatkan keterlibatan siswa,
3)      merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan,
4)      mendiagnosis kelemahan siswa,
5)      memusatkan perhatian siswa pada satu masalah, dan
6)      membantu siswa mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang baik.

41.  Keterampilan bertanya dasar terdiri atas komponen-komponen yaitu ?
Jawab  :
1)      pengajuan pertanyaan secara jelas dan singkat,
2)      pemberian acuan,
3)      pemusatan,
4)      pemindahan giliran,
5)      penyebaran,
6)      pemberian waktu berpikir, dan
7)      pemberian tuntunan.
42.  Dalam menerapkan keterampilan bertanya dasar dan lanjut, guru perlu memperhatikan beberapa prinsip. Sebutkan prinsip-prinsip tersebut !
Jawab  :
1)      Kehangatan dan keantusiasan.
2)      Menghindari kebiasaan mengulang pertanyaan sendiri, menjawab pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan yang mengundang jawaban serempak, mengulangi jawaban siswa, mengajukan pertanyaan ganda, dan menunjuk siswa sebelum mengajukan pertanyaan
3)      Waktu berpikir yang diberikan untuk pertanyaan tingkat lanjut lebih banyak dari yang diberikan untuk pertanyaan tingkat dasar.
4)      Susun pertanyaan pokok dan nilai pertanyaan tersebut sesudah selesai mengajar.
43.  Apakah yang dimaksud dengan Penguatan ?
Jawab  :
Penguatan adalah respon yang diberikan oleh guru terhadap perilaku siswa yang baik, yang menyebabkan siswa tersebut terdorong untuk mengulangi atau meningkatkan perilaku yang baik tersebut.
44.  Tujuan dari pemberian penguatan dalah ?
Jawab  :
Penguatan diberikan dengan tujuan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, mengontrol dan memotivasi perilaku yang negatif, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memelihara iklim kelas yang kondusif.
45.  Penguatan dapat dibagi menjadi penguatan verbal dan non-verbal. Jelaskan penguatan verbal !
Jawab  :
Penguatan verbal diberikan dalam bentuk kata-kata/kalimat pujian, sentuhan, kegiatan yang menyenangkan, serta benda atau simbol.
46.  Dalam memberikan penguatan harus diperhatikan prinsip-prinsipnya. Sebutkan prinsip-prinsip tersebut !
Jawab  :
1)      Kehangatan dan keantusiasan
2)      Kebermaknaan
3)      Hindari respon negatif
4)      Penguatan harus bervariasi
5)      Sasaran penguatan harus jelas
6)      Penguatan harus diberikan segera setelah perilaku yang diharapkan muncul.
47.  Jelaskan  fungsi variasi dalam pembelajaran ?
Jawab  :
Variasi di dalam kegiatan pembelajaran dapat menghilangkan kebosanan, meningkatkan minat dan keingintahuan siswa, melayani gaya belajar siswa yang beragam, serta meningkatkan kadar keaktifan siswa.

48.  Sebutkan 3  Komponen keterampilan mengadakan variasi !
Jawab  :
1)      Variasi dalam gaya mengajar yang meliputi variasi suara, pemusatan perhatian, kesenyapan, pergantian posisi guru, kontak pandang serta gerakan badan dan mimik.
2)      Variasi pola interaksi dan kegiatan.
3)      Variasi penggunaan alat bantu pengajaran yang meliputi alat/bahan yang dapat didengar, dilihat, dan dimanipulasi.
49.  Komponen keterampilan menjelaskan dibagi menjadi merencanakan materi dan menyajikan penjelasan. Sebutkan komponen dalam merencanakan materi !
Jawab  :
1)      menganalisis masalah,
2)      menentukan hubungan, serta
3)      menggunakan hukum, rumus, dan generalisasi yang sesuai.
50.  Sebutkan komponen dalam Menyajikan penjelasan !
Jawab  :
1)      kejelasan, yaitu keterampilan yang erat kaitannya dengan penggunaan bahasa lisan,
2)      penggunaan contoh dan ilustrasi, yang bisa dilakukan dengan pola induktif atau deduktif,
3)      pemberian tekanan yang dapat dilakukan dengan berbagai variasi gaya mengajar, dan membuat struktur sajian, dan balikan, yang bertujuan untuk mendapat informasi tentang tingkat pemahaman siswa, baik melalui pertanyaan mapun melalui tugas.
51.  Sebutkan 5 cara-cara menampilkan keterampilan  pendekatan pribadi !
jawab   :
1)      menunjukkan kehangatan dan kepekaan terhadap kebutuhan dan perilaku siswa,
2)       mendengarkan dengan penuh rasa simpati gagasan yang dikemukakan siswa,
3)       merespon secara positif pendapat siswa,
4)       membangun hubungan berdasarkan rasa saling mempercayai,
5)       menunjukkan kesiapan untuk membantu,
52.  Sebutkan 5 cara-cara menampilkan keterampilan mengorganisasikan kegiatan pembelajaran !
Jawab  :
1)      memberikan orientasi umum tentang tujuan, tugas, dan cara mengerjakannya,
2)      memvariasikan kegiatan untuk mencegah timbulnya kebosanan siswa dalam belajar,
3)      membentuk kelompok yang tepat,
4)      mengkoordinasikan kegiatan,
5)      membagi perhatian pada berbagai tugas dan kebutuhan siswa, serta
53.  Sebutkan 4 cara-cara menampilkan keterampilan membimbing dan memberi kemudahan belajar !
Jawab  :
1)      memberi penguatan secara tepat,
2)      melaksanakan supervisi proses awal,
3)      melaksanakan supervisi proses lanjut, serta
4)      melaksanakan supervisi pemaduan.

54.  Sebutkan 4 cara-cara menampilkan keterampilan merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran !
Jawab  :
1)      membantu siswa menetapkan tujuan belajar,
2)      merancang kegiatan belajar,
3)      bertindak sebagai penasihat siswa, serta
4)      membantu siswa menilai kemajuan belajarnya sendiri
55.  sebutkan cirri- cirri dari Diskusi kelompok kecil dalam format pembelajaran !
jawab   :
1)       melibatkan 3 – 9 orang siswa setiap kelompoknya,
2)       mempunyai tujuan yang mengikat,
3)      berlangsung dalam interaksi tatap muka yang informal, dan
4)      berlangsung menurut proses yang sistematis.
56.  Manfaat kelompok dikusi kecil  bagi siswa yaitu ?
Jawab  :
1)      mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi
2)      meningkatkan disiplin,
3)      meningkatkan motivasi belajar,
4)      mengembangkan sikap saling membantu, dan
5)      meningkatkan pemahaman.
57.  Sebutkan Komponen dan Prinsip-prinsip Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil !
Jawab  :
1)      memusatkan perhatian siswa,
2)      memperjelas pendapat siswa,
3)      menganalisis pandangan siswa,
4)      meningkatkan kontribusi siswa,
5)      mendistribusikan pandangan siswa, dan
6)      menutup diskusi
58.  Dalam penerapan kelompok kecil, hal-hal apa saja yang harus di perhatikan oleh seorang guru?
Jawab  :
1)      harus ada kesamaan latar belakang pengetahuan di antara para anggota kelompok,
2)      semua anggota diskusi kelompok harus mampu mengemukakan pendapatnya secara lisan,
3)      topik yang dibahas harus bersifat terbuka untuk menampung banyak pendapat,
4)      diskusi harus berlangsung dalam suasana keterbukaan,
5)      pelaksanaan diskusi harus mengingat keunggulan dan kelemahan-kelemahannya,
6)      diskusi memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang, dan
7)      guru harus mampu mencegah timbulnya hal-hal yang dapat menghambat jalannya diskusi
59.  Dalam tahap membuka pelajaran yang perlu dilakukan terlebih dahulu oleh seorang guru adalah ?
Jawab  :
Menetapkan sikap dan minat yang benar di antara anggota kelas.
60.  Sebutkan beberapa cara yang dapat membangkitkan minat dan perhatian murid saat guru mulai mengajarkan pelajarannya !
Jawab  :
1)      Berita-berita terkini
2)      Cerita-cerita dan lukisan
3)      Laporan tentang tugas-tugas
4)      Persoalan yang diandaikan
5)      Pemakaian alat peraga
61.  Jelaskan pemakaian alat peraga dalam membangkitkan minat dan perhatian murid saat guru mulai mengajarkan pelajarannya !
Jawab  :
Pemakaian alat peraga adalah Sebuah gambar, peta, benda, atau alat peraga yang lain dapat digunakan secara efektif untuk menumbuhkan minat murid terhadap pelajaran.
62.  Sebutkan cara-cara yang efektif untuk mengenalkan sebuah pelajaran !
Jawab  :
1)      Hubungkan pelajaran dengan pelajaran-pelajaran sebelumnya
2)      Umumkan pokok pelajaran secara wajar
3)      Garis besar harus jelas
4)      Nyatakan sasaran dan tujuan pelajaran
63.  Jelaskan tentang cara  mengumumkan pokok pelajaran secara wajar dalam cara yang efektif untuk mengenalkan sebuah pelajaran !
Jawab  :
Tidak perlu mengumumkan pokok pelajaran secara resmi. Yang penting adalah bagaimana kita dapat menyajikannya dengan lebih menarik, tetapi penuh dengan keterangan. Penyampaian pokok pelajaran harus menarik minat murid seperti halnya penyampaian pokok berita dalam sebuah surat kabar.
64.  Apa yang harus guru lakukan dalam menguraikan pelajaran ?
Jawab  :
1)      Menerapkan Kebenaran
2)      Merangsang Pikiran
3)      Doronglah Pengungkapan
65.  Apa yang dimaksud dengan merangsang pemikiran dalam menguraikan pembelajaran ?
Jawab  :
Mengajukan pertanyaan merupakan metode yang efektif untuk merangsang pikiran murid. Pancing murid untuk memikirkan sedalam mungkin setiap uraian yang disampaikan oleh guru. Pengujian murid secara teratur bisa menjaga perhatian murid untuk tetap tajam sehingga guru dapat mengetahui sejauh mana murid mendapat manfaat dari pelajaran itu.
66.  Jelaskan Satu cara untuk menuntun pikiran !
Jawa    :
dengan menerapkan pola pemikiran yang deduktif. Pola ini dimulai dengan guru menyebutkan satu prinsip atau pernyataan umum yang diikuti sejumlah lukisan atau ilustrasi. Kemudian libatkan murid dengan meminta mereka mencari contoh-contoh selanjutnya dari kehidupan mereka sendiri.
67.  Apa yang dimaksud dengan Menerapkan Kebenaran dalam menguraikan pembelajaran ?
Jawab  :
Guru perlu membimbing murid-muridnya dalam keadaan khusus di mana murid harus mempraktikkan prinsip-prinsip iman Kristen mereka. Hal ini bisa membawa pertumbuhan rohani yang baik bagi murid.
68.  Sebutkan hal-hal apa saja yang perlu guru lakukan dalam menutup pelajaran !
Jawab  :
1)      Merangkum Pelajaran
2)      Menyampaikan Rencana Pelajaran Berikutnya
69.  Apa yang guru lakukan sebelum membubarkan kelas ?
Jawab  :
Mengungkapkan pelajaran yang akan disampaikan minggu depan dan kemukakan rencana-rencana di mana murid dapat mengambil bagian dalam pelajaran mendatang.
70.  Sebutkan 2 hal yang dilakukan dalam membuka pelajaran !
Jawab  :
1)      Hubungan dengan Kelas
2)      Menghubungkan Pelajaran
71.  Sebutkan tujuan-tujuan dari menjelaskan !
Jawab  :
1)      membantu siswa untuk memahami rumus, dalil, dan prinsip,
2)      melibatkan siswa untuk berfikir,
3)      mendapatkan balikan mengenai pemahaman siswa,
4)      membimbing siswa dalam proses belajar untuk memecahkan masalah.
72.  Sebutkan beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam menjelaskan !
Jawab  :
1)      Penjelasan harus relevan denngan tujuan kegiatan belajar-mengajar,
2)      penjelasanharus sesuai dengan tingkat kemampuan dan latar belakang siswa,
3)      penjelasan harus sesuai dengan usia siswa,
4)      penjelasan harus bermakna bagi siswa.
73.  Sebutkan langkah-langkah dalam menjelasakn !
Jawab  :
1)      merencanakan penjelasan, dan
2)      menyajikan penjelasan.
74.  Sebutkan tujuan penggunaan keterampilan bertanya !
Jawab  :
1)      menarik siswa dalam pokok pembicaraan
2)      menumbuhkan rasa ingin tahu sisw,
3)      mengembangkan cara belajar siswa akatif,
4)      mengetahui kesulitan belajar siswa
5)      memotifasi siswa mwgeluarkan pendapat,
6)      mengukur hasil belajar siswa.
75.  Sebutkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengajukan pertanyaan !
Jawab  :
1)      Kehangatan dan keantusiasan,
2)      kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik diantaranya: (a) mengulangi pertanyaanya sendiri (b) mengulangi jawaban siswa (c) menjawab pernyataan sendiri (d) memancing jawaban serentak, (e) mengajukan pertanyaan ganda, (f) menentukan siswa sebelum pertanyaan ditemukan.
76.  Apa yang di maksud dengan mengelola kelas ?
Jawab  :
Mengelola kelas adalah kegiatan mengatur sejumlah sumber daya yang ada di kelas sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai secara efektif dan efisien.
77.  Sebutkan unsur non manusia dalam kegiatan pengaturan sumber daya yang dilakukan di dalam kelas !
Jawab  :
Unsur non-manusia mencakup keseluruhan unsur fisik kelas, ruangan dan seluruh fasilitas yang ada di kelas baik yang akan dipergunakan langsung dalam proses pembelajaran maupun yang tidak langsung.
78.  Jelaskan 3 fokus untuk mengartikan manajemen !
Jawab  :
1)      manajemen sebagai suatu kemampuan atau keahlian yang selanjutnya menjadi cikal bakal manajemen sebagai suatu profesi. Manajemen sebagai suatu ilmu menekankan perhatian pada keterampilan dan kemampuan manajerial yang diklasifikasikan menjadi kemampuan/keterampilan teknikal, manusiawi dan konseptual.
2)      manajemen sebagai proses yaitu dengan menentukan langkah yang sistematis dan terpadu sebagai aktivitas manajemen.
3)      manajemen sebagai seni tercermin dari perbedaan gaya (style) seseorang dalam menggunakan atau memberdayakan orang lain untuk mencapai tujuan.
79.  Jelaskan pengertian manajemen menurut Stoner (1992:8) !
Jawab  :
manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
80.  Jelaskan pengertian manajemen menurut Sudjana (2000:77) !
Jawab  :
manajemen merupakan rangkaian berbagai kegiatan wajar yang dilakukan seseorang berdasarkan norma-norma yang telah ditetapkan dan dalam pelaksanaannya memiliki hubungan dan saling keterkaitan dengan lainnya. Hal tersebut dilaksanakan oleh orang atau beberapa orang yang ada dalam organisasi dan diberi tugas untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
81.  Jelaskan tujuan manajemen kelas menurut Dirjen Dikdasmen !
Jawab  :
1)      Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2)      Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
3)      Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
4)      Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
82.  Jelaskan pengertian pengelolaan kelas menurut Alam S : 1B !
Jawab  :
pengelolaan kelas adalah segala kegiatan guru di kelas yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar.
83.  Jelaskan Metode Syariat (Doktrin) dalam membangun Pembinaan Etika Sopan Santun Kepada Anak !
Jawab  :
Seorang anak yang daya berpikir dan penalarannya masih iilim perkembangan diperlukan doktrin-doktrin yang membiasakan perilakunya agar menjadi baik. Doktrin yang dimaksudkan adalah ajaran-ajaran agama yang sifatnya mengikat yang harus dilakukan anak.
84.  Sebutkan 3 Metode Pembinaan Etika Sopan Santun Kepada Anak !
Jawab  :
1)      Metode Syariat (Doktrin)
2)      Metode Dialog
3)      Metode Keteladanan
85.  Sebutkan 5 cara pendekatan dalam metode pembinaan etika sopan santun kepada anak !
Jawab  :
1)      Pendekatan Psikologis
2)      Pendekatan Sosiokultural
3)      Pendekatan scientific
4)      Pendekatan Sistem Rasionalistik
5)      Pendekatan Sistem Kritik
86.  Apa yang di maksud dengan pendekatan psikologis ?
Jawab  :
Pendekatan psikologis adala Yaitu mengajak dan mengarahkan manusia untuk berpikir induktif dan deduktif tentang gejala-gejala ciptaan-Nya di langit dan di bumi ini (dalam aspek rasional-intelektual). Dalam aspek emosional mendorong manusia untuk merasakan adanya keluasan yang lebih tinggi yang gaib sebagai pengendali jalannya alam dan kehidupan ini. Sedangkan aspek ingatan dan kemauan manusia didorong untuk difungsikan ke dalam kegiatan menghayati dan mengamalkan nilai nilai agama agar tidak terjadi penyimpangan etika.
87.  Apa yang dimaksud dengan pendekatan system koperatif ?
Jawab  :
Komparatif adalab suatu pendekatan dengan cara memban-dingkan dua konsep pendidikan etika atau lebih dengan target mengambil keunggulan suatu konsep atau mempertegas kan-dungannya.
88.  Sebutkan Alquran yang menjelaskan tentang metode pembinaan etika melalui pendekatan-pendekatan !
Jawab  :
1)      (QS Al-Gha-syiyah [88]: 17-21).
2)      (QS Al-Ankabut [29]: 45).
3)      (QS Al-Ahzaab [33]: 21).
4)      (QS Huud [11]:120).
89.  Tuliskan alquran QS Al-Gha-syiyah [88]: 17-21, tentang metode pembinaan etika !
Jawab  :
Pembinaan etika dapat mendorong manusia untuk meng-gunakan akal pikirannya dalam menelaah dan mempelajari gejala-gejala kehidupan dirinya dan alam sekitarnya: Maka apakah mereka tidak memerhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.
90.  Tuliskan alquran QS Al-Ahzaab [33]: 21, tentang metode pembinaan etika !
Jawab  :
Pembinaan etika dapat menumbuhkan jiwa teladanan sebagai contoh yang baik sebagai media untuk dapat meniru suatu pekerjaan (aktivitas). Sesungguhnya telah ada pada (din) Rasulullah itu suri teladan ;. ^ng baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
91.  Apakah yang di maksud dengan penguatan ?
Jawab  :
Penguatan adalah respons terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali perilaku itu.

92.  Apa yang dimaksud dengan penguatan secara verbal dan non verbal ?
Jawab  :
Penguatan verbal adalah pemberian penguatan yang berupa pujian yang dinyatakan dengan ucapan kata atau kalimat, sedangkan penguatan nonverbal dinyatakan dengan bahasa tubuh (body language)
93.  Apakah manfaat penguatan bagi seorang siswa ?
Jawab  :
Manfaat penguatan bagi siswa untuk meningkatnya perhatian dalam belajar, membangkitkan dan memelihara perilaku, menumbuhkan rasa percaya diri, dan memelihara iklim belajar yang kondusif.
94.  Pengertian variasi dalam kegiatan pembelajaran adalah ?
Jawab  :
pengertian variasi merujuk pada tindakan dan perbuatan guru, yang disengaja ataupun secara spontan, yang dimaksudkan untuk memacu dan mengikat perhatian siswa selama pelajaran berlangsung. Tujuan utama guru mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran untuk mengurangi kebosanan siswa sehingga perhatian mereka terpusat pada pelajaran.
95.  Keterampilan mengadakan variasi terdiri dari tiga kelompok pokok, sebutkan ketiga kelompok tersebut !
Jawab  :
1)      variasi gaya mengajar,
2)      variasi pengalihan penggunaan indra, dan
3)      variasi pola interaksi
96.  Variasi gaya mengajar meliputi apa saja ?
Jawab  :
Variasi gaya mengajar meliputi suara jeda, pemusatan, gerak dan kontak pandang.
97.  Apakah yang dimaksud dengan Menjelaskan ?
Jawab  :
Pengertian menjelaskan dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran mengacu kepada perbuatan mengorganisasikan materi pelajaran dalam tata urutan yang terencana dan sistematis sehingga dalam penyajiannya siswa dengan mudah dapat memahaminya.
98.  Pentingnya penguasaan keterampilan menjelaskan bagi guru yaitu ?
Jawab  :
Dengan penguasaan ini memungkinkan guru dapat meningkatkan efektivitas penggunaan waktu dan penyajian penjelasannya, mengestimasi tingkat pemahaman siswa, membantu siswa memperluas cakrawala pengetahuannya, serta mengatasi kelangkaan buku sebagai sarana dan sumber belajar.
99.  Keterampilan merencanakan penjelasan mencakup apa saja ? sebutkan !
Jawab  :
1)      isi pesan yang dipilih dan disusun secara sistematis disertai dengan contoh-contoh dan
2)      hal-hal yang berkaitan dengan siswa.
100.          Sebutkan prinsip-prinsip yang mendasari Penyajian penjelasan !
Jawab  :
1)      Adanya relevansi antara penjelasan dengan tujuan pembelajaran,
2)      Sesuai dengan keperluan,
3)      Mengingat latar belakang dan kemampuan siswa,
4)      Diberikan secara spontan atau sesuai dengan rencana yang telah disiapkan, dan
5)      Isi penjelasan bermakna bagi siswa

Kamis, 29 Desember 2011

sejarah Cerita Pendek

Selain puisi, roman, dan drama cerita pendek (cerpen) pun termasuk bagian karya sastra. Tentunya cerpen yang memenuhi criteria sastra sebagai barometernya – tetapi tidak mutlak – sebab seorang apresiator beragam sudut penilaiannya. Jelasnya cerpen merupakan cerminan jiwa pengarangnya; cerminan intelegensi, sikap, tanggung jawab pribadi, dan tanggung jawab kepada masyarakat.
Selaras dengan penjelasan di atas, bahwa bagian kesusastraan itu di antaranya cerita pendek, berarti cerita pendek perlu diapresiasi. Kesusastraan pun merupakan hasil seni atau perwujudan kebudayaan manusia, dengan jalan mengapresiasi karya seni tersebut dapat dinikmati. Menurut Sumardjo (dalam Pikiran Rakyat, 4 September 1992), bahwa kesusastraan merupakan salah satu bentuk ungkapan batin masyarakat, tentunya di samping karya-karya budaya lainnya. Untuk memperoleh hasil yang diharapkan dalam mengapresiasi sastra salah satunya dengan jalan pendekatan bidang kemasyarakatan dan kebudayaan, sebab bidang tersebut merupakan jawaban dalam bidang kesusastraan.
Cerpen hidup sejalan dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaannya, berarti cerpen pertama kali tumbuh di lingkungan masyarakat. Sejak kapan cerpen hidup di masyarakat Indonesia?
Perkembangan sastra Indonesia pertama kali ditandai oleh sastra Nusantara (daerah), misalnya dengan munculnya mantera, pantun, dongeng, legenda, dan sebagainya. Setelah terjadinya Sumpah Pemuda pada taanggal 28 Oktober 1928, pada waktu itu dicetuskan bahwa bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia. Pada periode itulah sastra Indonesia mulai tumbuh di Indonesia, di antaranya dengan terbitnya roman-roman berbahasa Indonesia. Tetapi kehadiran cerpen Indonesia baru terlihat sekitar tahun 1930-an. Sebetulnya cerpen Indonesia kalah berkembang oleh cerpen daerah – misalnya pada kesusastraan Sunda – perkembangan cerpennya sudah dimulai sekitar tahun 1928-an, sebagai contoh dengan terbitnya kumpun cerpen (carpon) berjudul Dogdog Pangrewong karya GS sekitar tahun 1928-an.
Cerita pendek sebenarnya berasal dari Mesir purba, sekitar 3200 SM. terbit cerpen Dua Bersaudara. Bahkan kisah Piramus dan Tisbi yang dibuat Shekespeare ke dalam drama disadur dari cerita pendek Yunani purba. Cerita pendek berkembang di Eropa dimulai sekitar tahun 1812 dengan munculnya penulis Jacob Grimm dan Wilhelm Grimm, mereka menerbitkan cerpen berdasarkan cerita rakyat. Sementara perkembangan cerita pendek Amerika sekitar tahun 1912, penulis Washington Irving yang memeloporinya. Jejak Irving diikuti oleh Edgar Allan Poe dan Nathanael Hawthorne, mereka membuat cerpen dengan masing-masing corak. Edgar Allan Poe menulis cerpen gothic yang seram, sehingga Edgar Allan Poe dinobatkan sebagai bapak cerita detektif. Sedangkan Nathanael Hawthorne cerpen-cerpennya bersifat filosofis.
Sekitar tahun 1936 cerpen-cerpen mulai mewarnai kesusastraan Indonesia. Kebangkitan cerpen di Indonesia ditandai oleh Balai Pustaka yang menerbitkan Teman Duduk karya M. Kasim. Selanjutnya Suman Hs dengan Kawan Bergelut-nya diterbitkan pada tahun 1938. Sastrawan Indonesia dalam membuat cerpennya pada waktu itu masih bercorak dan berorientasi pada cerita-cerita rakyat yang lucu.
Sejak tahun 1946 cerpen mulai hidup di Indonesia. Bersama waktu dan perkembangan kebudayaan masyarakat Indonesia nilai cerpen pun mulai berubah. Dahulu bercorak cerita rakyat, tahun 1940-an mulai bergeser pada kehidupan rakyat sehari-hari. Contohnya karya Hamka yang berjudul Di Dalam Lembah Kehidupan diterbitkan pada tahun 1940, warna kehidupan rakyat sehari-hari sudah terlihat, walaupun Hamka mengerjakannya secara sentimental.
Cerita pendek terus berkembang, penyebarannya dibantu oleh majalah, di antaranya Majalah Panji Pustaka, Panca Raya, dan Pujangga Baru. Para pengarang dalam proses kreatifnya semakin merekayasa, berusaha membuat cerpen-cerpen yang bermutu, salah satunya Idrus. Menurut Sumardjo (1980 : 52) bahwa Idrus mampu memperbaki mutu cerpen. Dibandingkan pengarang sebelumnya, karya Idrus lekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain kalimatnya ekonomis, tema pun dipilih sangat sederhana. Cerpen-cerpen Idrus diterbitkan oleh Balai Pustaka berjudul Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Cerpen Indonesia mengalami masa subur sekitar tahun 1950-an setelah era perang kemerdekaan. Buku-buku kumpulan cerpen menandainya, di antaranya kumpulan cerpen Subuh karya Pramoedya Ananta Toer (BP:1951); Yang Terempas dan Terkandas karya Rusman Sutiasumarga (BP:1951); Manusia dan Tanahnya karya Aoh KArtahadimaja (BP:1952); Terang Bulan Terang di Kali karya S.M. Ardan (Gunung Agung: 1955) dan lain-lain.
Pada tahun 1960-an muncul para penulis baru, cerpen-cerpen pun banyak yang terbit. Era tahun 1960-an perkembangan cerpen ditandai oleh kumpulan cerpen Rasa Sayange karya Nugroho Notosusanto diterbitkan Pembangunan tahun 1961; Trisno Sumarjo kumpulan cerpennya Daun Kering diterbitkan Balai Pustaka tahun 1962; Djamil Suherman kumpulan cerpennya Umi Kalsum diterbitkan Nusantara tahun 1963; dan lain-lain.
Memasuki era orde baru, bidang sastra pun terjadi pembaharuan. Para pengarang cerpen seolah bertualang, larut dalam pencarian wajah cerpen, walaupun pengaruh Barat nampak dalam cerpen-cerpennya. Bukan saja dalam bidang puisi muncul karya-karya eksperimental, bidang cerpen pun nampaknya begitu. Cerpenis muda saat itu, seperti Putu Wijaya, Danarto, Umar Kayam, Wildan Yatim, Budi Darma, dan lain-lainnya seolah mencoba menyodorkan alternatif gaya kepenulisan baru. Unsur ekstrinsik lebih diutamakan dalam cerpen-cerpennya, di antaranya ilmu filsafat.
Dewasa ini cerpen dijadikan barometer perkembangan sastra, tentunya di samping puisi, novel, dan drama. Bahkan cerpen lebih banyak disukai para penulis, sebab di samping penyaluran batin, cerpen menjanjikan upah yang tinggi dibanding puisi. Bukan saja majalah Horison menyajikan cerpen-cerpen sastra, media lain pun mulai menyediakannya, bahkan hampir di setiap daerah. Media ibu kota yang menyajikan rubrik sastra cerpen berkadar sastra, di antaranya koran Kompas Minggu, Suara Pembaruan Minggu, Media Indonesia Minggu, Republika Minggu, dan Koran Tempo. Untuk media daerah pun mulai membuka rubrik sastra dan budaya, di antaranya Bali dengan koran Bali Pos, Jawa Timur dengan koran Jawa Pos, Jawa Tengah dengan koran Suara Merdeka, dan Jawa Barat dengan koran Pikiran Rakyat.
Media massa memang besar jasanya terhadap perkembangan cerita pendek, sebab cerpen-cerpen para penulis tersebut sebelum dibukukan banyak yang dipublikasikan terlebih dahulu di media massal. Jadi, koran dan majalah besar jasanya terhadap perkembangan cerpen, terutama pencetakan penulis baru. Para pengarang yang dilahirkan oleh Horison, Kompas dan Suara Pembaruan dekade 1980-an, di antaranya : Leila S. Chudori dengan kumpulan cerpennya Malam Terakhir (Grafitti: 1989); Seno Gumira Adjidarma kumpulan cerpennya Manusia Kamar (Gramedia: 1989); dan Yanusa Nugroho dengan kumpulan cerpennya Bulan Bugil Bulat (Grafitti:1990).

Contoh Cerita Pendek
Irigasi Bojong Loa
Cerpen: Beni Setia


SETELAH tiga bulan menghilang, si "Robohnya Surau Kami" akhirnya muncul di rumah. Mematung depan pintu terbuka, menunggu salah seorang dari kami menandai dan menemuinya - menanyainya. "Saya mencari Ahmad Bajuri, wartawan dan pengarang," katanya, seperti tiga tahun lalu ia memulai kunjungan perkenalannya, dengan tas kresek di tangan dan gitar di punggung.
Aku tertawa. Mengajaknya masuk, menawarinya rokok, dan menyulut sebatang sambil menunggu dua gelas kopi dibuat di dapur. Ia agak mabuk. Ia anak belakang yang biasa bergerombol di pos Kamling dekat jembatan irigasi yang ada di kiri gang yang memuara ke jalan utama. Ada pohon ketapang besar di sana, ada tepi jembatan beton yang teraling matahari sore di sana, dan tak ada kelompok becak dan warung di situ sehingga anak-anak biasa bergerombol sejak petang sampai tengah malam. Bergitar. Bernyanyi. Minum. Mabuk.
Mungkin memeras recehan dari yang lewat meski tak pernah dilakukan padaku. Mungkin karena aku wartawan. Mungkin karena aku kadang memberi mereka rokok. Dan berkali-kali mengajari tehnik yang benar dalam menekan senar gitar dengan tekanan jari dan hempasan atau garukan jari dari tangan lain agar dicapai nada sesuai kunci yang tepat. Dan sekali aku mengongkosi mereka ikut Lomba Musik Jalanan, dan dapat juara harapan 2 - lantas sebagian dari mereka jadi pengamen di bis kota dan restoran kaki lima.
Si "Robohnya Surau Kami" salah satunya. Yang sekarang berkunjung sambil membawa satu kresek kaset-kaset lagu rock, yang diletakkannya secara amat hati-hati, dan gitar yang disandarkan di kursi samping seakan-akan itu orang. Mengeluarkan rokok dan menyulut sebatang. Menikmatinya, seakan perang usai dan dunia mulai memasuki kedamaian baru. Ritualistik sekali. Khas.
* * *
NAMANYA Komarudin, dan anakku yang memberinya gelar si "Robohnya Surau Kami" - cerpen AA Navis. Sebuah rekaan yang berbicara tentang Tuhan yang marah pada orang Indonesia, yang ditakdirkan hidup di negara subur, yang tak dimanfaatkan untuk mensejahterakan bangsa, sibuk gontok-gontokan antar sesama, tak berdaya saat kekayaan alamnya dikeruk pihak asing, dan melulu beribadat agar masuk Sorga. Tapi mereka tak dimasukkan ke Sorga karena melakukan dosa sosial, alpa pada kewajiban kekhalifahan manusia yang ditakdirkan ada di satu tempat untuk memakmurkan tempat itu.
Dan Komar - entah dari mana, mungkin dari pelajaran bahasa dan sastra Indonesia sebagai lulusan SMA - menangkap seluruh adegan itu sebagai sebuah realitas hari pengadilan. "Kalau kita mati, dan ditanya Tuhan," katanya, sambil berdiri dalam setengah mabuk, "kita diam saja. Biarkanlah Tuhan yang buat deskripsi dan kita cuma mengangguk saja. Jangan sok suci, jangan PD macam para kiai dan orang masjid, yang bikin Tuhan marah karena klaim-klaim yang berlebih - sehingga digusur ke neraka. Kita diam saja. Kita pasrah saja. Kita ini seniman. Tak pernah usil. Tak ingin menyakiti orang lain. Selalu berdoa sebelum berkarya. Dan kalau lelah susah tidur minum sedikit agar tak usil dan jail pada orang lain."
"Dan kita tetap masuk neraka?"
"Tak lama. Pasrah saja - daripada sok benar dan protes pada Tuhan?"
Aku tertawa. Komar tersenyum. Menyeruput kopi yang dituang pada pisin alas mangkuk kopi. Menyulut rokok. Memusatkan perhatian. Dan meloncat pada pokok persoalan lain. Fokus meski penuh loncatan. Dan minta tanggapan tentang anggapan Islam yang tidak membolehkan gambar wajah dan patung sosok. Aku bilang, itu hanya alasan agar orang tak terlalu mengistimewakannya, memuja mujanya sebagai kesempurnaan sehingga melupakan Sang Maha Pencipta. Ia manggut-manggut, dan menuntut tanggapan pribadi. Aku bilang, aku suka gambar wajah dan patung sosok.
"Habis indah sih."
Komar tertawa. Tawa yang lepas dari lubuk hati paling dalam.
* * *
EMPAT tahun lalu ia punya pacar dan mereka tampaknya sepakat jadian sampai ada yang mengadukan kebiasaannya mabuk - selain masih menganggur. Percintaan itu putus. Ia terpuruk. Tenggelam dalam minum, total bergitar dan berteriak lantang menembangkan segala lagu populer sejak petang sampai dini hari. Latihan vokal yang hebat, pikirku - karenanya aku mampir dan memberikan advis tehnis sambil lalu. Tapi Komar sangat bersungguh-sungguh. Over serius malah.
Ia ikut lomba, dan serius ngamen. Kemudian pamit, karena diajak cukong yang mau bikin band baru - Getret, namanya - dan tertarik pada lengkingan vokalnya. Aku mendorongnya. Aku bilang agar ia makin serius melatih ketepatan grip dan seterusnya. Aku minta agar tiap nada yang dipilihnya pasti sekaligus agar bisa disalin dalam notasi angka - belum not balok - secara pasti. "Itu modal agar kamu bisa ngarang lagu. Bikin melodi yang akan gampang dibuatkan liriknya oleh siapa saja," kataku. Komar menatap. Tidak percaya diri. Dan aku mendorongnya untuk berani.
Dan sekarang ia muncul di rumah, dengan tas kresek berisi koleksi kaset, dan gitar tersampir di punggung - aku ingat gaya Bon Jovi - dan bilang ingin bertemu. Aku mengajaknya duduk, dan merokok sambil menunggu kopi dari dapur. Ia tampak berkonsentrasi. Mengumpulkan keberanian buat siap memulai sederetan kata yang akan mengungkapkan tujuannya mampir. Aku menatap. "Ada apa?" kataku, membuka kran keberanian berterus terang. Komar tersentak. Menata gitar dan memainkan beberapa kunci yang tepat dengan berurutan.
"Aku mengarang lagu, Bang."
"Yang itu?"
"Ada beberapa. Tolong diberi kata-kata," katanya, tersipu. Aku Mengacungkan jempol. Mengambil kertas dan pulpen. Minta agar ia memainkan varian chord itu sekali lagi. Mencoba membuat transkripsi tertulis tanpa lirik, lalu bersama-sama membuat lirik. Sampai tengah hari kami bisa membuat tiga buah lagu - anakku ikut nimbrung dan bernyanyi, diikuti oleh beberapa teman Komar yang biasa nongkrong di jembatan. "Ini hari besar Blok Irigasi," kataku, "siapa tahu lagu ini sukses." Mereka berteriak. Orang-orang tua datang. Mendukung. Tertawa. Dan dengan tulus mendoakan Komar - mata Komar berkaca-kaca.
* * *
TUJUH bulan kemudian album Getret ke luar. Salah satu lagu ciptaan Komar, "Blok Irigasi, Bojong Loa", meledak. Lagu itu bercerita tentang anak-anak muda yang selalu nongkrong di jembatan, dekat pos Kamling bawah teduh pohon ketapang, yang bernyanyi dan mabuk dari petang sampai dini hari, tapi tak pernah berkelahi dan mengganggu orang lain. Yang videoklipnya dibuat di jembatan itu dengan memanfaatkan anak-anak. Aku tersenyum. Komar bangga.
Malamnya dan diam-diam ia bertanya tentang apa yang harus dilakukannya.
Aku tersenyum. Meminta agar ia selalu berlatih karena itu modalnya, dan modal itu harus dipelihara dengan tubuh yang sehat. Aku minta agar ia tak terlalu banyak minum, cukup istirahat, cukup makan, dan berolahraga. Masa depan ma-sih panjang dan itu harus dikunci dengan tetap sehat dan kreatif. Komar tersipu. "Apa Wartini akan kembali padaku? Orang tuanya akan mengembalikannya?" katanya. Aku menelan ludah. Mengajaknya duduk di pojok.
"Mungkin akan kembali. Tapi apa kembali karena cinta atau karena kamu sudah jadi selebriti?" kataku. Komar tersenyum. Tapi aku minta agar ia mencari tahu isi hati Wartini, dengan menulis lagu tentang cintanya pada Wartini. Lagu yang meledak - ada lima versi lagu di lima album - tapi tak pernah mengembalikan Wartini. Ya! Karenanya aku membujuk agar bersabar, karena siapa tahu Tuhan akan mengganti Wartini dengan perempuan yang memang jodohnya. Komar tersenyum. Cuma tersenyum ketika aku menyuruh menginvestasikan penghasilannya secara hati-hati, karena (siapa tahu) itu harta yang disediakan Tuhan bagi anak-anaknya.
Dan sampai usia 33 tahun Komar masih saja mabuk dari petang, lalu lantang bernyanyi sampai dini hari - di mana pun, kapan pun. ***

Rabu, 26 Oktober 2011

materi

Mengapa Pragmatik Perlu Dipelajari dalam Program Studi Linguistik?

1. Pendahuluan
Dalam jangka yang cukup lama, seperti diungkap oleh Yule (1996: 6), studi bahasa sangat dikuasai oleh kecenderungan untuk menjelaskan bahasa berdasarkan sistem formalnya, yaitu dengan menurunkan sistem yang terdapat dalam matematika dan logika, dan mengabaikan unsur pengguna bahasa. Sebagai tataran terbaru dalam linguistik, Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang turut memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa. Meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik, yaitu makna, seperti akan saya jelaskan kemudian, makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik.
Makalah ini bertujuan menjelaskan pentingnya bidang pragmatik untuk dipelajari dalam program studi linguistik. Untuk tujuan tersebut, saya mengawali makalah ini dengan pembahasan mengenai pengertian pragmatik, perkembangannya, menjelaskan secara singkat topik-topik bahasannya, dan, dengan melihat perbedaan kajiannya dengan bidang lain dalam linguistik, menunjukkan pentingnya pragmatik.
2. Definisi Pragmatik
Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).
Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi.
3. Perkembangan Pragmatik
Mey (1998), seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5), mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme; (2) kecenderungan sosial-kritis; (3) tradisi filsafat; dan (4) tradisi etnometodologi.
Kecenderungan yang pertama, yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross, menolak pandangan sintaksisme Chomsky, yaitu bahwa dalam kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis, dan bahwa fonologi, morfologi, dan semantik bersifat periferal. Menurut Lakoff dan Ross, keapikan sintaksis (well-formedness) bukanlah segalanya, sebab, seperti sering kita jumpai, komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed), bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6).
Kecenderungan kedua, yang tumbuh di Eropa, tepatnya di Britania, Jerman, dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)), muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan, bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri.
Tradisi yang ketiga, yang dipelopori oleh Bertrand Russell, Ludwig Wittgenstein, dan terutama John L. Austin dan John R. Searle, adalah tradisi filsafat. Para pakar tersebut mengkaji bahasa, termasuk penggunaannya, dalam kaitannya dengan logika. Leech (1983: 2), seperti dikutip Gunarwan (2004: 7), mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa, misalnya Austin, Searle, dan Grice, dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross.
Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi, yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Dalam etnometodologi, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Dengan kata lain, kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6).
4. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik
4.1 Teori Tindak-Tutur
Melalui bukunya, How to Do Things with Words, Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. Sebab, seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)), sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh, sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik, yaitu pragmatik filosofis (Austin, Searle, dan Grice), pragmatik neo-Gricean (Cole), pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson), dan pragmatik interaktif (Thomas).
Austin, seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30), bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis, seperti Russel dan Moore, yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan, dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Contoh.
(1) Ada enam kata dalam kalimat ini
(2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono
Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition), yaitu, sesuai contoh di atas, kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30).
Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya, melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Melalui hipotesis performatifnya, yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act), Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements), melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Contoh.
(3) Dengan ini, saya nikahkan kalian (performatif)
(4) Rumah Joni terbakar (konstatif)
Selanjutnya Austin, seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9), memasukkan ujaran konstatif, karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif, sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Dalam contoh (4), struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar.
Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan, yaitu lokusi (locutionary act), ilokusi (illocutionary act), dan perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna, tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara, dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). Tindak-tutur, seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9), dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya, sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9; dan Yule 1996: 54-55).
Selain itu, Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur, yaitu asertif (assertive), direktif (directive), komisif (comissive), ekspresif (expressive), dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80; dan Yule 1996: 53-54). Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar; direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu; komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya; ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya; dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu.
4.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle)
Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar, yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). Kerja sama yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim), yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim), memberi informasi sesuai yang diminta; (2) bidal kualitas (quality maxim), menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya; (3) bidal relasi (relation maxim), memberi sumbangan informasi yang relevan; dan (4) bidal cara (manner maxim), menghindari ketidakjelasan pengungkapan, menghindari ketaksaan, mengungkapkan secara singkat, mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64).
Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas, pada kenyataannya, dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. Hal ini, seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14), didasarkan atas beberapa alasan, misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness).
4.3 Implikatur (Implicature)
Grice, seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57), menyebut dua macam implikatur, yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika, ujaran yang mengandung implikatur jenis ini, seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14), dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). Contoh.
(5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya
(6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok
Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan, sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna ‘tidak’ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya?
Berbeda dengan Grice, menurut Gazdar, dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice, implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. Yang pertama ada karena konteks ujaran, misalnya contoh (6) di atas, sedangkan yang kedua tidak, misalnya contoh (5) di atas.
4.4 Teori Relevansi
Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Menurut mereka, bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi, dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. Sperber dan Wilson (1995), seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22), menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. Melalui hal tersebut, penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. Contoh.
(7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini.
Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya, bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan, misalnya untuk ke kamar mandi. Dengan kata lain, pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi.
Selanjutnya, untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya, Sperber dan Wilson (1995), seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22), menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature, yaitu: pertama, ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif, misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan; kedua, komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan, namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. Misalnya pada contoh (7) di atas, pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya, yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman; dan ketiga, explicature atau degree of relevance, tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas.
(8) A: Well, there is a shuttle service sixty euros one-way, when do you want to go?
B: At the weekend.
A: What weekend?
B: Next weekend. How does it works? You just turn up for the shuttle service?
A: That might be cheaper. Then that's fifty.
Dalam percakapan di atas, pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. Dalam percakapan tersebut, B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend, padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. Begitu juga A, ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now, you have booked seat which costs 60 euros. If you buy ticket when you turn up, it costs 50 euros. Dalam hal ini, ujaran at the weekend, dalam pengertian degree of relevance, merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar, sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik; karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort.
4.5 Kesantunan (Politeness)
Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). Menurut Goffman (1967: 5), yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318), "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". Dengan kata lain, face dapat diartikan kehormatan, harga diri (self-esteem), dan citra diri di depan umum (public self-image). Menurut Goffman (1956), seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25), setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). Kebutuhan yang pertama disebut positive face, sedangkan yang kedua disebut negative face.
Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini, Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial, yaitu: pertama, tingkat gangguan atau rate of imposition (R), berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu, misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?"; kedua, jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya, misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri; dan ketiga, kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). Contoh.
(9) a. Maaf, Pak, boleh tanya?
b. Numpang tanya, Mas?
Dalam contoh di atas terlihat jelas, ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya, misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua; sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a).
Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA; semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi, maka politeness strategy semakin dibutuhkan. Politeness, face work technique, yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness, dapat dilakukan, misalnya dengan pujian; sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness, dapat dilakukan, misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). Berkaitan dengan politeness strategy ini, Brown dan Levinson (1978), seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26), dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka"; semakin tinggi resiko kehilangan muka, maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. Dalam hal ini, Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut.
(5) a. Hey, lend me a hundred dollars. (baldly)
b. Hey, friend, could you lend me a hundred bucks? (positive polite)
c. I'm sorry I have to ask, but could you lend me a hundred dollars? (negative polite)
e. Oh no, I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. (off record)
Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). Dalam hal ini, Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan, yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim), bidal kedermawanan (generosity maxim), bidal pujian (approbation maxim), bidal kerendahhatian (modesty maxim), bidal kesetujuan (aggreement maxim), bidal simpati (sympathy maxim); dan, seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19), ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim).
5. Pragmatik dalam Linguistik
Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas, salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Dalam sintaksis, seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4), dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis, bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat, dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Secara umum, sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya, sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman, meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris, tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis.
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis, melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Lebih tepatnya, dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi, bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Atas dasar ini, pertama, dapat dipahami, dan memang sering kita temukan, bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis; dan kedua, demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka, selain tata bahasa, makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik, sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik, terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa.
Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik, yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa, dalam analisis bahasa. Berdasarkan truth conditional semantics, untuk dapat dinyatakan benar, sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. Dengan demikian, bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis, karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Namun demikian, pembahasan makna dalam semantik belum memadai, karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa, sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi, meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai, tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. Dengan kata lain, untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari, di samping sintaksis dan semantik, dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur, makna apa yang dituturkan, dan maksud dari tuturan. Kegunaan pragmatik, yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik, dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan, misalnya, bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa, bagaimana memahami implikatur percakapan, dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur.
Selanjutnya, untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik, saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada, pertama, semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis, sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya; dan kedua, semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Tentang perbedaan yang pertama, meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan, sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata lain, semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan, sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya, sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain.
Lebih jauh lagi, dalam pengajaran bahasa, seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22), terdapat keterkaitan, yaitu bahwa pengetahuan pragmatik, dalam arti praktis, patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Dalam pengajaran bahasa Indonesia, misalnya, pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya, karena selain benar, bahasa yang digunakan harus baik. Dalam pengajaran bahasa asing, pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence), yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu, kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik, dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa.
6. Penutup
Seperti telah disebutkan di muka, tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Berdasarkan penjelasan di atas, saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal, pertama, pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya; kedua, berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari, saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. Selain itu, berkaitan dengan pengajaran bahasa, pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif.
Daftar Acuan
Austin, John L. 1962. How to Do Things with Word (edisi kedua). Oxford: Oxfod University Press.
Brown, Penelope., dan Stephen C. Levinson. 1978. Politeness: Some Universal in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press.
Eelen, Gino. 2001. A Critique of Politeness Theories. Manchester, UK: St. Jerome Publishing
Gunarwan, Asim. 2004. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). IKIP Singaraja.
Jaszczolt, K.M. 2002. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Edinburgh: Pearson Education.
Renkema, Jan. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company.
Thomas. Jenny. 1995. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. London/New York: Longman.
Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford. Oxford University Press.