Sabtu, 09 Juli 2011

makalah filologi

KATA PENGANTAR



Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa , atas segala nikmat , taufik , dan Hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah perkembangan folologi  di Arab ini dapat berjalan dengan baik .
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Filologi yang telah diberikan . Dengan tersusunnya makalah ini ,maka pada kesempatan ini saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan masukan / usulan untuk perbaikan .
Untuk lebih sempurnanya makalah ini ,saya masih sangat memerlukan saran dan kritik dari pembaca , mengingat saya menyadari bahwa pada makalah ini masih terdapat kekurangan . Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca , amin .



Penulis



Tunggal hardianto



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Filologi secara etimologi berasal dari kata philo (cinta) dan logos (kata) dari bahasa Yunani. Dengan demikian Filologi dapat diartikan “cinta kata”, “senang bertutur” dan “senang belajar”. Filologi juga mempunyai tujuan khusus, yakni mendeskripsikan dan menyajikan suatu teks tertulis di dalam naskah dalam wujud yang paling tepat. Filologi mempunyai tugas untuk menjabarkan ide-ide, gagasan, peristiwa, dan pandangan hidup.

B.     Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini penulis akan membahas pentingnya perkembangan filologi di Timur Tengah.

C.    Batasan Masalah
Agar dalam pembahasan masalah tidak semakin meluas, penulis membatasi masalah hanya pada ruang lingkup filologi di Timur Tengah.

D.    Metode Pembahasan
Dalam hal ini penulis menggunakan, penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku filologi.


BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Teori kajian Filologis

Penelitian filologi merupakan salah satu usaha dalam penggalian nilai luhur yang  terdapat  dalam  naskah  lama.  Berdasarkan  penelitian  filologi  dapat  diketahui latar belakang kebudayaan suatu masyarakat yang menghasilkan karya sastra tersebut Misalnya  :  agama,  kepercayaan,  adat-istiadat, pandangan  hidup  suatu  bangsa,  dan sebagainya. Penelitian  terhadap  sebuah karya  sastra  selalu  membutuhkan  seperangkat teori. Teori yakni asas-asas dan hukum yang menjadi dasar dalam suatu kesenian dan ilmu pengetahuan      ( Poerwadarminta, 1987 : 1054 ). Dalam menganalisis Dyah Utama, penulis menggunakan teori filologi. Serat Wasita

B.     Ranah kajian Filologi

Dalam berbagai buku Hand-out Filologi,  telah disepakati mengenai tujuan dari ilmu filologi yang sangat penting yaitu mengenali teks klasik dan memahami isinya. Pengenalan kepada teks-teks klasik berarti:1. Mengenali teks klasik sesempurna-sempurnanya; 2. Membersihkkan teks klasik dari segala penyimpangannya; 3. Memilih & menetapkan bacaan yang “asli”, 4. Menyajikan teks klasik dalam keadaan yang “asli” dan terbaca; serta 5. Mengungkapkan sejarah terjadinya teks dan riwayat  pertumbuhannya.
Untuk melakukan kajian seperti itu, ilmu filologi telah memiliki perangkat metodologi yang sangat khusus, seperti kritik teks. Sedang memahami isi naskah yaitu teks, berarti memahami: 1. kebudayaan suatu bangsa lewat hasil sastranya; 2. makna teks klasik bagi masyarakat pada jamannya dalam konteks masyarakat masing-masing hingga pada  masa sekarang; 3. Mengungkapkan nilai-nilai kebudayaan  lama; dan pada akhirnya, 4. Melestarikan warisan kebudayaan  yang bernilai tersebut.
Pada awal pertumbuhan ilmu filologi,  penekanan pada tujuan  merunut dan menentukan keaslian naskah di antara naskah-naskah lain yang serupa adalah sangat penting. Hal ini antara lain berkaitan dengan isi dari naskah itu yaitu kitab-kitab suci seperti Injil atau naskah-naskah yang disakralkan. Itulah sebabnya, Ilmu filologi seringkali didifinisikan sebagai:  The study of written records, the establishment of their authenticity and their original form of learning & literature. Tetapi ketika tahapan tersebut terlampaui, atau zaman telah berubah, serta perhatian para filolog telah berkembang jauh, maka ilmu filologi juga diarahkan kepada bagaimana memahami isi naskah itu sendiri. Dalam konteks seperti inilah lantas para filolog mulai berfikir untuk memanfaatkan ilmu-ilmu lain, seperti linguistik, sastra, sosiologi, antropologi, folklor, dan agama.
Perhatian kepada naskah klasik, kata klasik itu sering diposisikan sebagai sastra (baca: segala dokumen tertulis) yang dihasilkan  oleh masyarakat yang masih  dalam keadaan tradisional,  yakni masyarakat  yang belum memperlihatkan  pengaruh  Barat secara intensif.  Untuk Indonesia, pengaruh Barat artinya adalah pengaruh Belanda yakni zaman akhir abad ke-19 atau sebelum adanya  pendidikan (formal) di Indonesia. ‎Karena itu, pengertian Sastra  Indonesia Lama ialah segala dokumen sastra Melayu, baik yang  masih beredar  dari  mulut ke mulut maupun yang berbentuk  tulisan  yang dihasilkan sebelum orang mengenal pengetahuan cetak-mencetak. Tepatnya, semua hasil sastra sampai dengan  pertengahan abad XIX; atau lebih umum dibatasi sampai zaman Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi.

C.    Tujuan kerja Filologi

Secara umum, filologi bertujuan mengungkapkan hasil pemikiran, pengalaman,dan budaya yang hidup pada, masa lalu. Dengan cara seperti itu muncul juga manfaatnya, yakni terkodifikasinya nilai-nilai budaya klasik, melestarikan budaya yang terkandung dalam naskah itu dan memperkenalkannya kepada ujuan khusus yang menjadi ciri khas filologi sebagai berikut :
1.      Mengungkapkan gambaran naskah dari segi fisik dan isinya;
2.      Mengemukakan persamaan dan perbedaan antar naskah yang berbeda;
3.      Menjelaskan pertalian antarnaskah;
4.      Menguraikan fungsi isi,cerita dan fungsi teksnya;
5.      Menyajikan suntingan teks yang mendekati teks asli,autoratif,bersih dari kesalahan untuk keperluan penelitian dalam berbagai bidang ilmu(sastra,bahasa,filsafat)
6.      Menyajikan terjemahan hasil suntingan teks dan tulisan dan bahasa yang mudah dipahami masyarakat luas(misalnya dalam tulisan dan bahasa Indonesia)

BAB III
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan filologi di timur tengah

Dalam segala bidang kehidupan, dapat dirasakan unsur-unsur yang berakar pada kebudayaan Yunani Lama yang aspek-aspeknya tersimpan dalam naskah-naskah lama milik bangsa itu. Diantara cabang ilmu yang mampu membuka aspek-aspek tersebut adalah ilmu filologi. Kebudayaan Yunani Lama tidak hanya berpengaruh di dunia Barat, tapi berpengaruh juga dibagian dunia yang lain, seperti kawasan Timur Tengah, Asia dan Asia Tenggara, serta kawasan Nusantara.
Negara Timur Tengah mendapatkan ide filsapati dan ilmu eksakta terutama dari bangsa Yunani lama. Sejak abad ke-4 beberapa kota di Timur Tengah telah memiliki perguruan tinggi, pusat studi berbagai ilmu pengetahuan yang berasal dari Yunani. Seperti Gaza sebagai pusat ilmu oratori, Beirut dalam bidang hukum, Edessa dalam kebudayaan Yunani pada umumnya, demikian pula di Antioch.
Karena pada abad ke-5 kota Edessa dilanda perpecahan gerejani maka banyaklah ahli filologi berasal dari kota dan pindah ke kawasan Persia. Oleh kaisar Anusyirwan mereka disambut baik dan diberi kedudukan ilmiah di Akademi Jundi Syapur, pusat studi ilmu filsafat dan ilmu kedokteran. Dalam lembaga ini banyak naskah Yunani diterjemahkan kedalam bahasa Siria dan kedalam bahasa Arab.
Pada dinasti Abasiyah, dalam pemerintahan Khalifah Mansur (754-775), Harun Alrasyid (786-809), dan Makmum (809-833) studi naskah Yunani semakin berkembang dan berpuncak pada pemerintahan Makmum. Pada waktu itu dikenal tiga penerjemah, yaitu Qusta bin Luqa, Hunain bin Ishaq, dan Hubaisyi yang ketiganya beragama nasrani. Hunain yang peling luas pengetahuannya, menguasai bahasa Arab, Yunani, Persia, bahasa ibunya adalah bahasa Arab. Sejak berumur tujuh tahun, ia sudah menjadi penerjemah kedalam bahasa-bahasa tersebut. Keterampilannya itu diperoleh saat ia tinggal di kota yang multilingual. Pada waktu itu masih banyak tersimpan didaerahnya naskah-naskah Yunani, dan Hunain rajin mencari naskah lama Yunani sampai ke Mesir, Siria, Palestina, Mesopotan.
Disamping melakukan telaah terhadap naskah-naskah Yunani, para ahli filologi dikawasan Timur Tengah juga menerapkan teori filologi terhadap naskah-naskah yang dihasilkan oleh penulis-penulis dari daerah itu.
Bangsa-bangsa di Timur Tengah memang dikenal sebagai bangsa yang memiliki dokumen lama berisi nilai yang agung, seperti karya tulis yang dihasilkan oleh bangsa Arab dan Persi (Arberry, 1968:199-22), Nicholson, 1952 : 180-209). Sebelum kedatangan Islam, dalam bentuk prosa dan puisi, misalnya Mu’allaqat dan Qusidah pada bangsa Arab (Nicholson, 1953 : 76-77).
Pada abad ke-10 hingga abad ke-13, karya sastra mistik Islam berkembang semakin maju, misalnya Mantigal-Tair susunan Farid al-Din al-Tar, Mathnawi I Ma’nawi karya Jalal al-Din al-Rumi. Puisi penyair Persi terkenal, Umar Khayyam, serta cerita Seribu Satu Malam hingga saat ini masih dikenal di dunia berat, dan berkali-kali diterjemahkan dalam bahasa Barat dan bahasa Timur.
Meluasnya kekuasaan dinasti Umayah ke Spanyol dan Andalusia pada abad ke-8 sampai abad ke-15 membuka dimensi baru bagitelaah karya tulis dari kawasan Timur Tengah yang masuk ke Eropa daratan pada waktu itu. Banyak karya sastra Arab dan Persi yang dikenal di Eropa dalam periode kekuasaan dinasti Umayah di Eropa. Orientalis yang terkenal pada waktu itu adalah Albertus Magnus, ahli filsafat Aristoteles melalui tulisan-tulisan Al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Gazhali, dia mengajar pada abad ke-12.
Sedangkan pada abad ke-13, Roger Bacon dan Raymond Luli belajar bahasa Arab dan Persi untuk mempelajari ilmu filsafat Yunani. Dan pada waktu itu pula, di pusat studi Montpillier, dilakukan penerjemahan karya tulis Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina kedalam bahasa Latin.
Pada abad ke-17, telaah teks klasik Arab dan Persi di Eropa telah dipandang mantap terutama di Cambridge dan Oxford. Selain naskah Arab, naskah Turki, Ibrani dan Siria juga sudah mulai dipelajari.
Pada akhir abad ke-18, di Paris didirikan pusat studi kebudayaan ketimuran oleh Silvester de Sacy dengan nama Ecole des Langues Orientales Vivantes. Di pusat studi kebudayaan itu, banyak dipelajari naskah dari Timur Tengah oleh ahli kawasan Eropa. Serta di pusat studi kebudayaan tersebut lahirlah ahli orientalis Eropa terkemuka dengan karangan yang bermutu.
Mereka antara lain Etienne Quatremere (1782-1857) telah menerjemahkan Tarikh al-Mamalik, karya Al-Maqrizi serta Muqaddimah Ibnu Khaldun dalam bahasa Perancis dan menerbitkan naskahnya dalam bahasa Arab; de Slane. De Sacy dipandang sebagai Bapak orientalis di Eropa karena Ecole des Langues Orientalis Vivantes lahir banyak orientalis Eropa yang banyak karyanya dalam bidang telaah karya tulis kawasan Timur Tengah pada umumnya.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Setiap perkembangan filologi di Timur Tengah mengalami kemajuan yang pesat disetiap abad perkembangannya. Dari awal yang bahasa Arab belum banyak dikenal orang diseluruh penjuru dunia, perlahan tapi pasti dengan bantuan para orientalis terkenal seperti Umar Khayamm, Albertus Magnus,  De Sacy, dan lainnya. Berkat merekalah, bahasa Arab dapat berkembang tak hanya di Timur Tengah, tapi juga diseluruh penjuru bagian Barat dan Eropa.
DAFTAR PUSTAKA

‎Bachtiar,  Harsya W. 1973    “Filologi   dan   Pengembangan    Kebudayaan    Nasional Kita.” Pengarahan Seminar Filologi  dan Sejarah.  Yogyakarta.
Baried. Siti Baroroh, dkk.
1985    Pengantar   Teori Filologi.  Pusat   Pembinaan   dan  Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudaya,an. Jakarta.‎
http://eprints.undip.ac.id/19530/1/mirya_anggraheni.pdf

0 komentar:

Poskan Komentar